I . LATAR BELAKANG
Menjadi tenaga pengajar di Sekolah Dasar (SD)
bukanlah pekerjaan mudah. Di beberapa daerah perkotaan memang sedikit
lebih mudah karena sudah banyak sarana pendidikan anak usia dini,
seperti kelompok bermain (playgroup) taman kanak-kanak. Kebanyakan
penyelenggara pendidikan anak usia dini telah mengajarkan cara membaca,
menulis dan berhitung. Berbeda dengan anak didik di SD yang jauh di
pedesaan dan pulau-pulau terpencil. SD adalah harapan satu-satunya
pembelajaran awal dan mendasar bagi anak-anak negeri yang tinggal di pelosok desa terpencil.
II. ISI
Di
Pulau yang tidak jauh dari Batam, salah seorang murid kelas II SMP
belum hapal perkalian empat. Apa yang salah? Siapa yang bertanggung
jawab? Ketika si anak didik masuk kelas III, para guru sibuk membuka
kelas sore (bimbingan belajar istilahnya) dan menggodok habis-habisan
atau bahkan mencari jalan paling jitu untuk meluluskan si anak dari UAN
dengan bayaran yang tidak murah pastinya.
Sistem
pendidikan yang benar harus diawali dari dasar, bukan dari atas atau
tingkat Universitas, SMU/ SMK atau SMP. Namun harus dimulai dari SD.
Tenaga pendidik harus lebih diperhatikan kualitas, baik paktor kemampuan
mendidik, juga kemampuan psikisnya. Sudah saatnya merekrut tenaga
pendidik di level ini
melalui tes psikologi. Apalagi para pendidik yang bertugas di
pelosok-pelosok desa atau hinterland. Kemudian kesejahteraan para abdi
negara ini harus lebih baik dari pekerja yang sama jenjang berikutnya.
Namun standar kualitas hasil didikan itu sendiri harus dibuat, agar
dapat dilakukan evaluasi sebelum murid-murid dinyatakan tidak lulus.
Mendidik
anak SD berbeda dengan jenjang pendidikan berikutnya. Di kebanyakan SD,
pendidik mengajarkan apa yang belum pernah diketahui oleh anak didik,
seperti belajar membaca, berhitung dan menulis misalnya. Sementara di
SMP, SMA dan perguruan tinggi
adalah pengulangan, pemantapan/pemahiran dan pengaplikasian apa yang
pernah diajarkan di SD. Metode belajar mengajar harus dibuat sedinamis
mungkin sesuai dengan kondisi daerah setempat. Kemungkinan berbeda
sistem pendidikan di wilayah perkotaan, pedesaan dan pulau/pesisir pantai.
Namun memiliki satu standar nasional yang baku. Bukan hanya berdasarkan
nilai di raport, tapi juga kualitas anak didik itu sendiri.
Dewan pendidikan, dan komite sekolah harus menjadi pemikir dan motor penggerak dalam memberi solusi masalah-masalah lapangan yang dihadapi.
Penelusuran minat, bakat dan kemampuan anak didik seharusnya sudah dimulai dari SD.
lomba cerdas tangkas/cermat semakin ditingkatkan frekuensinya, sehingga nilai raport itu bukan hanya isapan jempol belaka.
Sarana
pendidikan, seperti buku pelajaran, buku tulis, alat-alat tulis yang
standar, alat peraga pembelajaran dan bangunan sekolah yang layak, sudah
selayaknya disediakan oleh pemerintah. Bukan saatnya lagi ada sekolah
dikte dan salin.
Bahasa Inggris sudah harus diperkenalkan, memang kita harus bangga
dengan bahasa sendiri, namun pengetahuan dan teknologi masih banyak yang
menggunakan bahasa Inggris. Bahasa daerah, dapat dipelajari sebagai
bahagian dari ekstra kurikuler. Karena bahasa daerah juga merupakan
tanggung jawab orang tua untuk memperkenalkan kepada anak-anaknya.
Pelatihan
tenaga pendidik, bukan sekedar pertemuan rutin dan arisan, namun harus
ada evaluasi yang komperhensif, dan dijadikan acuan untuk kenaikan
pangkat atau gaji, sehingga tidak ada kenaikan pangkat otomatis untuk
guru. Penerimaan guru honorer, harus melalui seleksi yang ketat.
Pemerintah harus menetapkan standard gaji minimal
pendidik honorer dan tidak ada lagi guru yang oleh komite sekolah di
tingkat sekolah dasar. Adalah suatu kewajiban mutlak bagi pemerintah
untuk menyediakan tenaga pendidik di tingkat ini sesuai kebutuhan
kurikulum.
Pertukaran guru dari perkotaan ke pedesaan lebih
ditingkatkan. Bukan hanya sebagai kunjungan kerja, namun pelaksanaan
proses belajar mengajar yang sesungguhnya dengan masa kerja tidak kurang
dari satu bulan belajar efektif. Gaji guru harus lebih besar dari
semua gaji PNS lainnya untuk jabatan/golongan yang sama, namun gaji guru
dapat ditinjau ulang secara berkala lebih cepat dari PNS lainnya jika
si guru dapat menunjukkan kualitasnya,
Penghargaan (reward)
adalah bagian dari pendidikaan. Sepertinya pemerintah saat ini kurang
memperhatikan pemberian penghargaan di level pendidikan ini. Penghargaan
bukan hanya berbentuk uang tunai atau lembar piagam saja, namun
kesempatan bagi anak didik terbaik dan pendidik terbaik dalam jenjang
ini untuk memperoleh kesempatan dalam pendidikan jenjang berikutnya.
Misalnya beasiswa belajar, atau pertukaran siswa/ guru nasional dan lain
sebagainya.
Dunia Teknologi Informasi
(IT) juga sudah saatnya diperkenalkan pada jenjang ini. Setiap SD harus
sudah memiliki perpustakaan dan warnet. Teknologi komunikasi saat ini
sangat pesat perkembangannya, dan sudah waktunya pemerintah mewajibkan
pengusaha jaringan telekomukasi memberikan bantuan kepada
sekolah-sekolah dasar di negeri ini melalui jaringan internet.
Setiap
dinas pendidikan sudah saatnya memiliki pusat (server) IT untuk wilayah
masing-masing. Perangkat lunak (software) yang berhubungan langsung
dengan dunia pendidikan harus diberikan oleh pemerintah secara cuma-cuma
dengan lisensi khusus.
III. KESIMPULAN
Jika pemerintah mau, setiap investor
yang masuk ke wilayah/daerah negeri ini mau memberi bantuan kepada SD
yang ada, jika pemerintah daerah atau yang berwenang dapat memberi imbal
balik yang positip untuk kemudahan investasi yang mereka tanamkan. Dan
setiap aspek pemerintah dalam dunia pendidikan mau memberikan perhatian
lebih kepada SekolahDasar pelosok, maka kehidupan pendidikan di daerah
akan lebih maju juga. Karena, anak-anak yang mereka didik sekarang akan
menjadi penentu maju mundurnya negara di masa yang akan datang.
Sumber : http://francosimauw.blogspot.com/2009/12/pendidikan-sekolah-dasar-yang-kurang.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar